Selasa, 07 Februari 2012

Pentingnya Tetangga


Assalamualaikum wr wb.

Apa kabar teman-teman sekalian? Semoga baik-baik saja. Tidak seperti saya yang hari ini berhasil ‘dianiaya' dosen. #curcol #nangis.

Apakah pentingnya tetangga bagi teman-teman?
Pernahkah teman-teman mendengar bahwa tetangga adalah keluarga kedua?
Pernahkah teman-teman merasakan bahwa itu benar?

Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa tetangga adalah keluarga kedua. Dan saya sangat setuju. Apalagi untuk orang yang tinggal jauh dari keluarga, seperti saya ini. Kenapa demikian? itu karena tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita dalam masalah jarak.

Coba bayangkan, jika kita secara tiba-tiba mengalami kemalangan, seperti sakit, terjatuh, atau rumah kita disatroni maling. Siapa yang menolong kita jika kita jauh dari keluarga? Ya jelas tetangga kita. Jika kita menghubungi keluarga kita, memang dia akan mengunjungi kita, namun tentu butuh waktu. Bagaimana jika keadaan kita mendesak? Tentu tidak mungkin kita harus menunggu sampai keluarga kita sampai. Misalnya, kita mengalami sakit parah di rumah kontrakan atau kos-kosan kita, dan harus butuh bantuan segera. Kita tidak mungkin menunggu keluarga kita datang. Maka tetangga lah yang akan menolong kita.

Bagi umat muslim, pasti juga sering mendengar atau membaca kalau jika kita membuat makanan, dan tetangga kita mencium aroma makanan kita tersebut, maka kita wajib membagi sebagian makanan kita tersebut ke tetangga kita yang mencium aroma tersebut.

Nah, dari itu sudah jelas bahwa tetangga itu penting bagi kita. Maka dari itu, hendaknya kita selalu berhubungan baik dengan tetangga kita, jangan seperti orang bermusuhan atau seperti orang yang tak kenal . Karena suatu saat kita pasti akan membutuhkan tetangga kita tersebut. Itu pasti!!!.

Mengapa saya membahas ini? Karena saya agak jengkel dengan teman-teman satu kontrakan saya. Mereka tidak mau membaur dengan tetangga. Mereka terkesan apatis. Mereka kurang mau berinteraksi dengan tetangga sekitar. Bahkan untuk iuran rutin bulanan mereka tidak mau membayarnya. Apa sebabnya? Karena mereka menganggap tidak ada gunanya membayar iuran itu, soalnya sewaktu rumah kami disatroni maling, laporan kami tidak digubris oleh ketua RT. Jadi, mau tak mau saya yang secara diam-diam membayar uang iuran rutin tersebut. Daripada nantinya kami diusir karena tak mau memenuhi kewajiban. Bahkan yang lebih parahnya, untuk pergi Yasinan ke rumah orang yang meninggal pun tak mau. Ya sudah, akhirnya daripada kami makin dicap buruk, saya pergi Yasinan sendiri.

Ok, saya paham bahwa teman yang kehilangan barang itu sakit hati karena tidak diproses laporannya kepada RT tersebut. Tapi, Masa karena ini, kita harus menjadi warna negara yang buruk pula. Masa kita harus menjadi tetangga yang buruk pula. Masa kita harus membalas keburukan dengan keburukan pula. Sebagai orang yang bijak, kita harus memaafkan. Lagipula ini kan masalah dengan RT, bukan dengan warga sekitar.

Saya ingin menekankan sekali lagi bahwa tetangga itu penting. Kita pasti akan membutuhkan tetangga suatu saat nanti. PASTI!!! Jangan sampai ketika kita terkena masalah, tetangga tidak mau tahu dengan masalah kita.


Baca Selengkapnya