Senin, 05 November 2012

Ibu Penjual Permen


"Seorang Ibu-ibu setengah baya berjalan kesana kemari menjajakan barang dagangannya. Mulai dari permen, minuman ringan, bahkan juga rokok. Sejauh pandangan mataku, belum ada yang membeli barang dagangan Ibu tersebut.

Sampai dua orang anak perempuan kakak beradik yang umurnya tak jauh beda, kira-kira 7 tahun dan 5 tahun mendatangi Ibu tadi dan membeli permen. Anak tadi memberikan uang kepada Ibu penjual, dan ternyata uang dua orang anak itu kurang 1000. Ibu itu pun diam sejanak, dan kemudian dia berkata kepada dua orang anak tadi untuk meminta tambahan uang 1000 kepada orangtuanya. Namun kemudian 2 anak tadi bingung, dan memberikan lagi permen tadi kemudian pergi. Namun karena uang sudah diterima oleh Ibu penjual permen, maka dia mengejar 2 orang anak itu, memberikan permen yang mereka inginkan, kemudian melanjutkan menjual dagangannya tanpa meminta tambahan uang kepada 2 orang anak tadi."


Kira-kira seperti cerita diataslah apa yang saya lihat beberapa waktu yang lalu. Kebaikan dan keikhlasan hati  seorang Ibu-ibu biasa. Keikhlasan dan kebaikan hati yang dimiliki Ibu tadi sangat mahal harganya. Harganya jauh lebih tinggi dari seribu rupiah yang tidak dia dapatkan tadi.

Itu yang jarang dimiliki oleh sebagian besar manusia. Bahkan untuk keikhlasan hati, ibu tadi memiliki tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada kita. Ketika dia bahkan mungkin saja sedang kekurangan uang,  dia rela untuk mengikhlaskan uang seribu yang sebenarnya bisa untuk membeli 1 potong gorengan untuk mengisi perutnya.

Kita patut belajar dari Ibu tadi. Untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar